Raja Menjadi Budak

Abunawas & Raja Aaron

oleh: Sugeng Hariyanto

diterjemahkan oleh: Ferryanto

Raja Menjadi Budak

Selama seminggu Abunawas tidak punya uang. Dia butuh uang untuk membeli makanan. Jadi, dia pergi ke desa lain untuk mencari kerja. Disini dan disana dia pergi, mengetuk setiap pintu. Tapi masih tak seorangpun mau menpekerjakannya. Dia sangat lelah dan istirahat dibawah sebuah pohon rimbun. Dia segera tertidur. Tiba-tiba dua tangan kuat merenggut kedua tangannya dan sebuah suara keras berkata, "Hei, bangun kau orang malas!" Dua tangan kuat mendorong Abu membangunkannya. "Kau harus membantu kami di tanah pertanian kami," kata suara lain. Sebelum Abu dapat mengucapkan sepatah kata dua orang kuat itu telah menyeret Abu ke tanah pertanian mereka.
Mereka berjalan selama beberapa waktu sebelum tiba di sebuah tanah pertanian luas. Mereka membawa Abu ke seorang laki-laki kuat besar dengan anting-anting di salah satu telinganya. "Kau akan bekerja disini hingga sore besok. Kami akan memberi kau sedikit makanan dan minuman. Jika kau bekerja dengan lambat atau dengan malas kami akan memberi kau sebuah lecutan di punggungmu."
Abu bekerja keras dan merasa sangat lelah. Dia tiba-tiba mendapat ide bagus. Dia mendekati laki-laki kuat dengan anting-anting.
"Pak," kata Abu.
"Apa?"
"Anda lihat bahwa Saya seorang laki-laki kecil. Saya tidak dapat bekerja cepat. Jika Saya memberi Anda seorang laki-laki yang sangat kuat yang dapat bekerja tiga kali lebih keras dan lebih cepat dari saya, akankah Anda membiarkan saya pergi?"
Laki-laki kuat yang tampaknya menjadi pemilik dari lahan pertanian itu tertarik dengan tawaran Abu. Dia setuju membiarkan Abu pulang ke rumah.
"Ingat, jika kau menipu saya, kau akan harus bekerja disini seluruh hari tanpa makanan atau minuman."
"Tidak, Saya tidak akan menipu Anda," kata Abu. "Besok, waktu sore, Anda akan menemukan seorang pria tepat dibawah pohon dimana Anda mengambil saya pagi ini. Di akan jadi milikmu."
Abu lalu pulang ke rumah dan segera menghadap raja.
"Apa yang membawa kau kemari, Abu?"
"Yang Mulia, kemarin Saya pergi ke desa tetangga kita dan menikmati musik yang sangat indah. Jika Anda tertarik, Saya dapat membawa Anda kesana dan Anda dapat menikmatinya sendiri. Tapi, ada satu syarat."
"Apa itu, Abu?" tanya raja yang begitu tertarik dengan musik.
"Anda harus berpakaian seperti petani."
"Tidak masalah," kata raja.
Hari berikut, pada sekitar sore hari, Abu dan raja datang ke pohon rimbun.
"Saya tidak mendengar apapun, Abu."
"Bersabarlah, Yang Mulia. Sore hari ketika Saya mendengar musik itu. Jadi, mari kita menunggu selama beberapa menit."
Angin sepoi-sepoi meniup wajah mereka. Raja menjadi ngantuk dan akhirnya jatuh tertidur. Pada saat itu Abu berjalan menjauh dengan pelan.
Lama kemudian datang dua petani mendekati raja yang tidur. Mereka menyeret raja ke tuan mereka. Tentu saja mereka tidak tahu bahwa mereka sedang menyeret raja mereka, Raja Aaron El Roshid, karena ia mengenakan pakaian petani. Tuan tanah mengatakan hal yang sama seperti dia katakan pada Abu hari sebelumnya.
Raja bekerja keras dan cepat karena dia tidak mau mendapat lecutan di punggungnya. Dia sangat marah pada keduanya Abu dan orang-orang buas itu. Tapi dia tidak dapat melakukan apapun pada waktu itu.
Hari berikut mereka membiarkan selesai raja tepat sore hari. Raja kembali ke istana langsung dan memerintahkan penjaga membawa Abu kepadanya. Ketika Abu di depan raja dia berkata dengan marah, "Berani-beraninya kau melakukan itu padaku! Saya akan menghukummu!"
"Tunggu sebentar, Yang Mulia!" kata Abu dengan tenang. "Tolong maafkan saya, tapi jika tidak membiarkan Anda tahu sendiri segala yang terjadi disana, Anda tidak akan percaya pada saya. Sekarang Anda telah melihat dan merasakan segala sesuatu sendiri. Sekurang-kurangnya Anda sekarang tahu bahwa tidak semua rakyat Anda adalah orang-orang baik. Beberapa buas dan kejam seperti para petani di desa tetanggga itu."
Raja mengangguk dengan pelan dan kemudian tersenyum.
"Kau benar, Abu!"

Kembali