Inggris : Sugeng Hariyato
Indonesia : Ferryanto
Nasib Baik Hati Pada Saya
Suatu hari Nasreddin pergi ke kota. Istrinya mencuci mantelnya sementara ia menunggu Nasreddin. Ia selesai mencuci mantel itu pada sore hari, tapi Nasreddin belum datang. Kemudian istrinya menggantung mantel itu pada sebuah tali di halaman depan. Ketika malam datang ia lupa mengangkat mantel itu.
Pada jam 7 Nasreddin pulang ke rumah. Karena ia sangat lelah, ia pergi ke kamar tidur segera setelah makan malam. Pada tengah malam ia bangun karena ia mendengar sesuatu di luar. Ia mengintip keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi. Tiba-tiba ia sangat terkejut melihat sebuah bayangan di halaman depan. Cahaya bulan membuat bayangan itu seperti seorang laki-laki. Nasreddin pikir bahwa itu seorang pencuri.
Ia mengambil senapan tuanya dengan cepat. Setelah ia memasukkan senjata itu dengan beberapa peluru, ia membidikkan pada bayangan dengan hati-hati. Sebuah tembakan terdengar; bayangan itu tersentak dan jatuh. Nasreddin sangat senang karena ia menembak bayangan itu dengan tepat. Ia berteriak dengan gembira dan begitu keras sehingga istrinya bangun.
"Ada apa?" tanya istrinya.
"Ada seorang pencuri dekat pagar. Ia mau memasuki dengan paksa rumah kita. Jadi saya mengambil senapan saya dengan cepat dan menembaknya. Tapi, jangan khawatir, ia sudah mati. Sekarang, tidur saja lagi. Besok kita akan mengubur mayatnya," jawab Nasreddin.
Pagi berikut, mereka bangun pagi-pagi sekali dan pergi ke halaman. Keduanya tidak melihat mayat ataupun tetesan darah disana. Mereka hanya menemukan mantel Nasreddin yang dicuci oleh istrinya hari sebelumnya tergeletak di tanah.
Nasreddin mengambil mantel itu dan memeriksanya. Ada sebuah lubang tembakan pada mantel. Ia menunjukkannya pada istrinya.
"Istriku, nasib begitu baik pada saya. Bayangkan jika Saya di dalam mantel ini, Saya seharusnya sudah mati dan kau harus menjadi janda sekarang," katanya dengan sedih.
Pada jam 7 Nasreddin pulang ke rumah. Karena ia sangat lelah, ia pergi ke kamar tidur segera setelah makan malam. Pada tengah malam ia bangun karena ia mendengar sesuatu di luar. Ia mengintip keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi. Tiba-tiba ia sangat terkejut melihat sebuah bayangan di halaman depan. Cahaya bulan membuat bayangan itu seperti seorang laki-laki. Nasreddin pikir bahwa itu seorang pencuri.
Ia mengambil senapan tuanya dengan cepat. Setelah ia memasukkan senjata itu dengan beberapa peluru, ia membidikkan pada bayangan dengan hati-hati. Sebuah tembakan terdengar; bayangan itu tersentak dan jatuh. Nasreddin sangat senang karena ia menembak bayangan itu dengan tepat. Ia berteriak dengan gembira dan begitu keras sehingga istrinya bangun.
"Ada apa?" tanya istrinya.
"Ada seorang pencuri dekat pagar. Ia mau memasuki dengan paksa rumah kita. Jadi saya mengambil senapan saya dengan cepat dan menembaknya. Tapi, jangan khawatir, ia sudah mati. Sekarang, tidur saja lagi. Besok kita akan mengubur mayatnya," jawab Nasreddin.
Pagi berikut, mereka bangun pagi-pagi sekali dan pergi ke halaman. Keduanya tidak melihat mayat ataupun tetesan darah disana. Mereka hanya menemukan mantel Nasreddin yang dicuci oleh istrinya hari sebelumnya tergeletak di tanah.
Nasreddin mengambil mantel itu dan memeriksanya. Ada sebuah lubang tembakan pada mantel. Ia menunjukkannya pada istrinya.
"Istriku, nasib begitu baik pada saya. Bayangkan jika Saya di dalam mantel ini, Saya seharusnya sudah mati dan kau harus menjadi janda sekarang," katanya dengan sedih.
Kembali