oleh: Sugeng Hariyanto
diterjemahkan oleh: Ferryanto
Mengambil Gambar Surga
Raja Aaron masih ingin tahu banyak mengenai kepintaran Abunawas. Dia mau mencari tahu lagi bagaimana Abunawas memecahkan masalah. Karena itu, dia membuat sebuah rekayasa masalah dan akan memerintahkan Abunawas mencari solusinya.
Dia menceritakan Abunawas mengenai kekuatiran akan rakyatnya. "Abu, kau tahu bahwa saya sekarang memikirkan tentang rakyatku. Saya sangat mencintai rakyatku. Saya ingin bersama mereka selamanya; namun, itu dapat menjadi yang terakhir karena sewaktu-waktu Saya akan mati. Saya mimpi berada di Surga dengan rakyatku ketika Saya mati. Itu mimpi yang bukan-bukan, bukan? Bagaimanapun, Saya percaya bahwa mimpiku akan menjadi kenyataan jika seseorang sepintar kau memberi saya bantuan. Kau hanya butuh mengambil gambar surga untuk mendorong orang-orang berkelakuan dengan benar. Sehingga mereka mungkin tinggal di surga kemudian."
Seperti biasa, Abunawas tidak dapat menolak perintah.
"Kapan harus Saya lakukan itu, Yang Mulia?" tanya si pria pintar.
"Dalam waktu dekat kedepan!" jawab raja.
Lalu Abunawas pulang ke rumah.
Beberapa hari berlalu. Tidak ada kabar mengenai Abunawas. Raja memanggilnya ke istana.
"Kapan kau akan pergi ke surga, Abu?" tanya Abeydron kepada Abunawas.
"Dalam w/aktu dekat ke depan," dia menjawab.
"Apa maksudmu dalam waktu dekat ke depan, Abu?"
Abunawas tersenyum dan bertanya pada raja, "Apa yang Anda maksud ketika Anda memerintahkan saya mengambil gambar dalam waktu ke depan, Yang Mulia?"
"Besok!" jawab raja dengan cepat.
"Ya, besok Saya akan pergi ke surga," kata Abunawas.
Tiga hari lain berlalu. Tidak ada kabar mengenai Abunawas. Raja terlihat tidak sabar. Dia percaya bahwa Abunawas dapat memecahkan masalah tersebut. Jadi, dia mau mengetahui trik apa yang Abunawas mainkan pada waktu itu. Lalu dia memutuskan untuk berjalan ke rumah Abunawas.
Dia agak terkejut melihat Abunawas sedang duduk di rumahnya dengan santai.
"Kapan kau akan pergi ke surga, Abu?" tanya raja.
"Besok, Yang Mulia," jawab Abunawas dengan serius.
"Pagi hari atau sore hari?"
"Tergantung pada Tuhan, Yang Mulia. Kapanpun Tuhan memberi saya izin, Saya akan pergi," jawab Abunawas dengan tenang.
"Tapi, haruskah itu harus besok?"
"Itu benar, Yang Mulia."
"Pastikan kau mengambil gambar yang bagus dan indah, Abu?"
"Saya akan berbuat sebaik mungkin, dan Saya akan selalu menghormati raja."
Pagi hari berikut, raja datang ke rumah Abunawas lagi. Dia mau mengetahui apakah Abunawas telah pergi ke surga.
Ketika raja melihat Abunawas masih di kursinya, dia mengingatkan Abunawas segera.
"Kau berkata kau pergi ke surga, Abu?"
"Besok, Yang Mulia."
"Tidak sekarang?"
"Tidak, besok," kata Abunawas.
Raja lalu kembali ke istana. Tampaknya dia kecewa.
Sore hari berikut, dia datang ke rumah Abunawas lagi. Dia menemukan Abunawas sedang pergi tidur.
"Abu, kapan kau akan pergi ke surga?" tanya raja.
"Besok."
"Kau katakan kau mau pergi sekarang!"
"Saya bilang besok, Yang Mulia," ia mendesak kata-katanya.
"Kemarin kau katakan besok. Itu berarti sekarang!"
"Besok adalah besok," Abunawas menjawab dengan serius.
"Hari ini adalah hari besokmu?!"
"Hari ini adalah sekarang. Besok adalah besok, Yang Mulia."
"Kau bergurau."
"Tidak, Yang Mulia. Besok adalah besok. Tidak ada batas untuk besok. Lebih lagi, untuk pergi ke surga seseorang harus mati dulu. Jika tidak, laki-laki atau perempuan tidak dapat melihat surga, apalagi mengambil gambarnya. Jadi, jika Anda mau saya mengambil gambar surga, maka Anda mau saya segera mati," kata Abunawas dengan suara rendah.
Raja diam seribu bahasa. Dia membayangkan bahwa Abunawas dapat melepaskan diri dari misi mustahil, tapi dia tidak pernah meramalkan Abunawas berbicara dengan cara itu ke dia. Bagaimanapun dia mengakui bahwa perintahnya sungguh mustahil diterima.
Kembali
Dia menceritakan Abunawas mengenai kekuatiran akan rakyatnya. "Abu, kau tahu bahwa saya sekarang memikirkan tentang rakyatku. Saya sangat mencintai rakyatku. Saya ingin bersama mereka selamanya; namun, itu dapat menjadi yang terakhir karena sewaktu-waktu Saya akan mati. Saya mimpi berada di Surga dengan rakyatku ketika Saya mati. Itu mimpi yang bukan-bukan, bukan? Bagaimanapun, Saya percaya bahwa mimpiku akan menjadi kenyataan jika seseorang sepintar kau memberi saya bantuan. Kau hanya butuh mengambil gambar surga untuk mendorong orang-orang berkelakuan dengan benar. Sehingga mereka mungkin tinggal di surga kemudian."
Seperti biasa, Abunawas tidak dapat menolak perintah.
"Kapan harus Saya lakukan itu, Yang Mulia?" tanya si pria pintar.
"Dalam waktu dekat kedepan!" jawab raja.
Lalu Abunawas pulang ke rumah.
Beberapa hari berlalu. Tidak ada kabar mengenai Abunawas. Raja memanggilnya ke istana.
"Kapan kau akan pergi ke surga, Abu?" tanya Abeydron kepada Abunawas.
"Dalam w/aktu dekat ke depan," dia menjawab.
"Apa maksudmu dalam waktu dekat ke depan, Abu?"
Abunawas tersenyum dan bertanya pada raja, "Apa yang Anda maksud ketika Anda memerintahkan saya mengambil gambar dalam waktu ke depan, Yang Mulia?"
"Besok!" jawab raja dengan cepat.
"Ya, besok Saya akan pergi ke surga," kata Abunawas.
Tiga hari lain berlalu. Tidak ada kabar mengenai Abunawas. Raja terlihat tidak sabar. Dia percaya bahwa Abunawas dapat memecahkan masalah tersebut. Jadi, dia mau mengetahui trik apa yang Abunawas mainkan pada waktu itu. Lalu dia memutuskan untuk berjalan ke rumah Abunawas.
Dia agak terkejut melihat Abunawas sedang duduk di rumahnya dengan santai.
"Kapan kau akan pergi ke surga, Abu?" tanya raja.
"Besok, Yang Mulia," jawab Abunawas dengan serius.
"Pagi hari atau sore hari?"
"Tergantung pada Tuhan, Yang Mulia. Kapanpun Tuhan memberi saya izin, Saya akan pergi," jawab Abunawas dengan tenang.
"Tapi, haruskah itu harus besok?"
"Itu benar, Yang Mulia."
"Pastikan kau mengambil gambar yang bagus dan indah, Abu?"
"Saya akan berbuat sebaik mungkin, dan Saya akan selalu menghormati raja."
Pagi hari berikut, raja datang ke rumah Abunawas lagi. Dia mau mengetahui apakah Abunawas telah pergi ke surga.
Ketika raja melihat Abunawas masih di kursinya, dia mengingatkan Abunawas segera.
"Kau berkata kau pergi ke surga, Abu?"
"Besok, Yang Mulia."
"Tidak sekarang?"
"Tidak, besok," kata Abunawas.
Raja lalu kembali ke istana. Tampaknya dia kecewa.
Sore hari berikut, dia datang ke rumah Abunawas lagi. Dia menemukan Abunawas sedang pergi tidur.
"Abu, kapan kau akan pergi ke surga?" tanya raja.
"Besok."
"Kau katakan kau mau pergi sekarang!"
"Saya bilang besok, Yang Mulia," ia mendesak kata-katanya.
"Kemarin kau katakan besok. Itu berarti sekarang!"
"Besok adalah besok," Abunawas menjawab dengan serius.
"Hari ini adalah hari besokmu?!"
"Hari ini adalah sekarang. Besok adalah besok, Yang Mulia."
"Kau bergurau."
"Tidak, Yang Mulia. Besok adalah besok. Tidak ada batas untuk besok. Lebih lagi, untuk pergi ke surga seseorang harus mati dulu. Jika tidak, laki-laki atau perempuan tidak dapat melihat surga, apalagi mengambil gambarnya. Jadi, jika Anda mau saya mengambil gambar surga, maka Anda mau saya segera mati," kata Abunawas dengan suara rendah.
Raja diam seribu bahasa. Dia membayangkan bahwa Abunawas dapat melepaskan diri dari misi mustahil, tapi dia tidak pernah meramalkan Abunawas berbicara dengan cara itu ke dia. Bagaimanapun dia mengakui bahwa perintahnya sungguh mustahil diterima.
Kembali