Mengajar Sapi Membaca

Abunawas Misi-Misi Mustahilnya

oleh: Sugeng Hariyanto

diterjemahkan oleh: Ferryanto

Mengajar Sapi Membaca

Suatu hari Raja Aaron mengirim salah seorang pengawalnya untuk memanggil Abunawas.
"Abu, kau harus melihat raja sekarang," kata pengawal pada Abunawas.
Abunawas mengikuti pengawal ke istana. Setelah duduk disana sementara dia bertanya, "Apa yang harus Saya lakukan, Yang Mulia?"
"Saya minta bantuanmu, Abu. Setiap orang tahu bahwa kau adalah seorang pria yang sangat pintar. Oleh karena itu, Saya pikir kau dapat membantu Saya mengajar sapi Saya. Jika kau tidak dapat, Saya akan menghukummu!"
Abunawas tidak punya pilihan. Dia menerima perintah dan membawa sapi tersebut pulang. Ketika dia tiba di rumah, dia mengikat sapi pada pohon alem dibelakang rumahnya.
Pada pagi berikut dia pergi ke belakang pekarangan dengan tongkat rotan. Dia memukul binatang itu lagi dan lagi. Sapi itu melenguh lagi dan lagi. Dia tetap memukulnya sementara berkata, "Kau, Raja, atau Saya!"
Dia melakukannya setiap pagi. Lagi dan lagi orang-orang tahu apa yang dia lakukan. Suatu hari berita tersebut sampai ke raja. Raja Aaron marah mendengarnya. Dia mengirim pengawal untuk memanggil Abunawas.
"Abu, mengapa kau tidak memberiku laporan tugasmu?" tanya raja ketika Abunawas sedang duduk didepannya.
"Saya minta maaf, Yang Mulia. Saya begitu sibuk mengajar sapi membaca hingga Saya lupa melapor. Setiap pagi dan sore Saya mengajarnya membaca," jawab Abunawas.
"Apa kau berhasil?" tanya raja.
"Tidak banyak, Yang Mulia."
"Saya mendengar kau memukul sapi itu setiap pagi dan sore. Mengapa kau melakukannya?" raja bertanya.
Abunawas tetap diam.
"Orang-orang mengatakan bahwa kau tidak mengajar sapi itu membaca. Kau hanya berkata tiga kata padanya, 'Kau, Raja, atau Saya'. Apa maksudmu? Kau harus menjelaskan itu padaku!" kata raja dengan sangat marah.
Abunawas mengangkat kepalanya dan berkata, "Sapi adalah seekor hewan. Tidak perduli bagaimana baiknya Saya mengajarnya, ia tidak akan dapat membaca. Saya berkata, 'Kau, Raja, atau Saya' karena Saya mau membuat sapi itu mengerti. Seseorang harusnya salah. Itu mungkin sapi, 'Anda', raja, atau Saya sendiri," jawab si pria pintar.
"Apa yang kau maksud dengan seseorang harusnya salah"? tanya raja lagi.
"Jika sapi tidak dapat membaca, satu kemungkinannya adalah sapi salah. Ia terlalu bodoh! Kemungkinan kedua adalah raja salah. Dia tahu bahwa hewan tidak dapat membaca, tapi dia memerintahkanku untuk mengajarnya membaca. Kemungkinan ketiga, Saya salah karena Saya tidak dapat mengajar seekor hewan membaca," jawab Abunawas. Hakim harus memutuskan tiga kemungkinan ini," jawab Abunawas.
Raja diam. Dia menyadari bahwa perintahnya sungguh mustahil dikerjakan. Abunawas telah menunjukkannya dengan cara uniknya sendiri.
"Mengapa kau memukul sapi itu. Kau dapat mengatakan tiga kata tanpa memukulnya," tanya raja. Sekarang dia bicara dengan lebih tenang.
"Saya pikir setiap hakim tidak akan berani mengatakan bahwa raja salah. Oleh karena itu, Saya memukul sapi itu dengan harapan bahwa ia akan segera mati. Ketika dia mati, tidak akan ada lagi masalah untukku. Saya tidak harus mengajarnya membaca dan Anda tidak dapat menghukumku," si pria pintar menjawab.
Raja sungguh diam seribu bahasa pada waktu itu. Abunawas benar.
Selama waktu yang lama tak seorangpun bicara. Lalu Abunawas mohon diri untuk pulang.
"Kau benar, Abu. Saya menarik kembali perintahku. Kau dapat memiliki sapi itu. Kau dapat menjualnya, menyimpannya, atau menyembelihnya, tapi jangan memukulnya," kata raja.

Kembali