Memindahkan Masjid

Abunawas Misi-Misi Mustahilnya

oleh: Sugeng Hariyanto

diterjemahkan oleh: Ferryanto

Memindahkan Masjid

Suatu hari Raja Aaron berbicara di depan rakyatnya, "Setelah mengadakan salat jumat besok sore, kalian jangan pulang ke rumah. Saya akan membuat pengumuman yang sangat penting."
"Tempat disekitar mesjid kita sangat ribut. Jadi, Saya akan memindahkan mesjid kita ke lokasi lain. Siapapun yang dapat memindahkan mesjid akan mendapatkan banyak hadiah."
Tak seorangpun mengajukan penawaran. Raja mengulangi pengumuman beberapa kali. Masih, tak seorangpun bicara. Raja memandang orang satu per satu. Matanya mencoba mencari Abunawas. Ketika dia melihatnya, dia berkata, "Abu, bagaimana denganmu?"
Abunawas terkejut. Tapi, akhirnya dia berkata, "Saya akan memindahkkan mesjid, tapi saya punya satu syarat, Yang Mulia," kata dia.
"Apa itu?" tanya raja.
"Saya akan memindahkan mesjid Jumat berikut, jika Anda mengandakan pesta makan untuk kami," kata pria pintar.
Tak seorangpun bicara. Mereka memandang Abunawas dengan tidak percaya. Mereka berpikir bahwa tugas itu mustahil. Mereka tidak dapat membayangkan bagaimana seorang pria dapat mengangkat dan membawa sebuah mesjid besar.
Jumat berikut, banyak orang berkumpul di depan mesjid. Mereka baru selesai melakukan salat jumat. Mereka ikut pesta makan besar disana. Setiap orang bahagia.
"Abunawas, ini waktunya kau melakukan pekerjaanmu," kata raja. Dia melanjutkan berbicara pada rakyatnya, "Kalian semua disini menyaksikan suatu yang luar biasa hari ini. Abunawas akan memindahkan mesjid ke tempatnya yang baru disana."
Abunawas menjernihkan kerongkongannya dan berkata, "Saudara-saudara, Raja Aaron memberiku perintah untuk memindahkan mesjid ke sisi lain dari alun-alun istana."
Orang banyak membuat beberapa suara ribut mengungkapkan ketidakpercayaan mereka pada apa yang mereka baru dengar. Seorang dari mereka berseru, "Bagaimana kau akan mengangkatnya Abu?"
Abunawas memandang pria itu. Dia tersenyum dan berkata, "Saya akan membawanya di pundak saya."
"Baik, Abu. Lakukan itu sekarang," teriak Raja Aaron diatas suaru gaduh.
Orang banyak diam. Tak seorangpun berani berbicara dengan keras. Abunawas melangkah kedepan menuju orang-orang. Dia berdiri dengan kaki terpisah. Dia membungkuk mengangkat celana panjangnya. Dia menggulung lengan kemejanya. Lalu dia berjalan ke mejid. Ratusan orang, termasuk raja dan para menteri mengikutinya.
Ketika Abunawas datang ke sisi mesjid, dia berhenti dan bergumam sesuatu yang tidak terdengar. Banyak orang mengambil nafas dalam.
Abunawas berputar ke orang-orang dan berkata, "Saudara-saudara, biasanya ketika Saya membawa sesuatu yang berat, saya meminta bantuan seseorang untuk meletakkannya di atas pundakku. Mesjid itu sangat berat. Tolong bantu saya. Angkat dan letakkan di atas punggungku!"
Setiap orang terkejut. Mereka hanya memandang satu sama lain.
"Tuan-tuan, ada sekitar dua ratus dari kalian disini. Kalian baru saja mengadakan pesta makan besar! Kalian harusnya sangat kuat. Tolong, bantu saya!" kata Abunawas lagi.
Tiba-tiba seorang menteri berkata, "Abu, apa kau gila? Kami tidak akan dapat mengangkatnya!"
"Ya, kami tidak dapat" kata seorang yang lain.
Lagi dan lagi orang-orang menyerukan hal yang sama.
Abunawas berkata pada raja, "Bukan salahku tidak memindahkan mesjid, Yang Mulia. Orang-orang tidak mau membantuku!"
Raja tersenyum dengan pahit ketika mendengar kata-kata Abunawas.

Kembali