oleh: Sugeng Hariyanto
diterjemahkan oleh: Ferryanto
Matahari Dalam Ember
Raja memberi tugas mustahil lain ke Abunawas suatu hari. Dia berkata, "Abu, musim panas ini matahari sangat sangat panas. Jika kau dapat membungkus matahari, kau akan membantu semua orang."
Abunawas hanya diam. Lalu raja berkata lagi, "Saya mau kau membungkus matahari besok!"
Abunawas tidak dapat menolak perintah tersebut. Dia terlihat bingung.
"Jam berapa akan kau kerjakan perintah tersebut, Abu?" tanya raja.
Abunawas diam. Raja mengulang pertanyaan.
Setelah cukup lama diam dia menjawab, "Sekitar tengah hari, Yang Mulia!"
Lalu raja memerintahkan semua menteri untuk datang ke istana hari berikut sekitar jam dua belas.
Hari berikut pada jam dua belas banyak orang berkumpul di istana. Mereka mau melihat bagaimana Abunawas membungkus matahari. Ketika Abunawas datang kesana, raja menanyakannya langsung, "Bagaimana kau akan melakukannya, Abu?"
"Saya butuh seember air dan sebuah tas kulit besar, Yang Mulia. Jangan ada kebocoran pada tas," kata si pria pintar.
Lalu raja meminta pengawal-pengawalnya untuk mengambil seember air dan sebuah tas kulit besar.
Tak lama kemudian pengawal-pengawal membawa perlengkapan tersebut. Mereka memberi perlengkapan tersebut ke Abunawas.
Setelah menerima perlengkapan, Abunawas pergi ke alun-alun istana dengan seember air. Dia menaruh ember di tengah alun-alun. Dia melihat ke dalam ember. Airnya sangat bersih. Dia melihat bayangan matahari dalam air. Lalu dia kembali ke raja dan para menteri.
"Yang Mulia, Saya telah menangkap matahari. Saya menaruhnya dalam ember," kata Abunawas.
Raja tersenyum dan bertanya, "Bagaimana kau dapat membuktikannya, Abu?"
Abunawas minta seorang menteri pergi ke tengah alun-alun dan melihat ke dalam ember. Dia bertanya ke menteri itu ketika dia kembali, "Apa yang kau lihat?"
Menteri menjawab, "Matahari!"
Menteri-menteri lain berbicara satu sama lain. Mereka tidak percaya menteri yang baru melihat matahari dalam ember.
"Abu, dapatkah Saya melihat matahari?" tanya seorang dari mereka.
"Langsung saja," jawab Abunawas.
Jadi, menteri itu pergi melihat matahari dalam ember. Ketika dia kembali, dia mengatakan kepada yang lain bahwa dia melihat matahari dalam ember.
"Anda ingin membuktikannya sendiri, Yang Mulia?" tanya Abunawas kepada raja.
Raja tersenyum. Dia tahu Abunawas mencoba melepaskan dirinya dari tugas mustahil tersebut. Dia berkata, "Tidak. Abu. Sekarang bungkus matahari itu!"
Abunawas mengambil tas kulit besar. Dia pergi ke tengah alun-alun. Dia membuka tas dan meletakkannya di tanah. Berikutnya, dia mengangkat ember dan menuangkan air ke dalam tas. Dia menutup tas dan berlari ke raja.
"Saya telah membungkus matahari, Yang Mulia," dia berkata dan menaruh tas di depan raja.
"Saya masih melihat matahari bersinar di langit, Abu," kata raja.
"Yang Mulia, menteri-menteri Anda mengatakan pada kami bahwa mereka melihat matahari di ember. Dan Saya menuang air ke dalam tas. Jadi, matahari ada dalam tas sekarang," bantah Abunawas.
"Abu, lihat keluar. Matahari sedang bersinar di langit!" raja membantah juga.
"Ya, Yang Mulia. Tapi itu matahari kedua."
"Matahari kedua? Hanya ada satu matahari di dunia.
"Anda benar, Yang Mulia. Hanya ada satu matahari di dunia. Jadi, ketika Saya menaruh matahari ke dalam tas, seluruh dunia berada dalam kegelapan total. Jadi Allah menggantikannya dengan matahari yang baru," Abunawas membatah dengan meyakinkan.
Raja tidak dapat membantah lebih lanjut. Lalu dia berjalan ke tas dan membuka tas. Dia tidak melihat matahari dalam tas. Lalu dia berkata, "Abu, tidak ada matahari dalam tas. Dimana matahari yang barusan kau bungkus?"
"Yang Mulia, ada dua matahari sekarang. Matahari dalam tas merasa bersalah karena Saya dapat menangkapnya. Ia akan menunjukkan dirinya hanya jika dia melihat matahari kedua," kata Abunawas.
"Apa maksudmu?" tanya raja.
Abunawas tidak menjawab pertanyaan itu. Dia mengambil tas dan membawanya keluar. Dia membuka tas di bawah matahari. Setelah sesaat dia berteriak, "Dia disini, Yang Mulia!"
Kembali
Abunawas hanya diam. Lalu raja berkata lagi, "Saya mau kau membungkus matahari besok!"
Abunawas tidak dapat menolak perintah tersebut. Dia terlihat bingung.
"Jam berapa akan kau kerjakan perintah tersebut, Abu?" tanya raja.
Abunawas diam. Raja mengulang pertanyaan.
Setelah cukup lama diam dia menjawab, "Sekitar tengah hari, Yang Mulia!"
Lalu raja memerintahkan semua menteri untuk datang ke istana hari berikut sekitar jam dua belas.
Hari berikut pada jam dua belas banyak orang berkumpul di istana. Mereka mau melihat bagaimana Abunawas membungkus matahari. Ketika Abunawas datang kesana, raja menanyakannya langsung, "Bagaimana kau akan melakukannya, Abu?"
"Saya butuh seember air dan sebuah tas kulit besar, Yang Mulia. Jangan ada kebocoran pada tas," kata si pria pintar.
Lalu raja meminta pengawal-pengawalnya untuk mengambil seember air dan sebuah tas kulit besar.
Tak lama kemudian pengawal-pengawal membawa perlengkapan tersebut. Mereka memberi perlengkapan tersebut ke Abunawas.
Setelah menerima perlengkapan, Abunawas pergi ke alun-alun istana dengan seember air. Dia menaruh ember di tengah alun-alun. Dia melihat ke dalam ember. Airnya sangat bersih. Dia melihat bayangan matahari dalam air. Lalu dia kembali ke raja dan para menteri.
"Yang Mulia, Saya telah menangkap matahari. Saya menaruhnya dalam ember," kata Abunawas.
Raja tersenyum dan bertanya, "Bagaimana kau dapat membuktikannya, Abu?"
Abunawas minta seorang menteri pergi ke tengah alun-alun dan melihat ke dalam ember. Dia bertanya ke menteri itu ketika dia kembali, "Apa yang kau lihat?"
Menteri menjawab, "Matahari!"
Menteri-menteri lain berbicara satu sama lain. Mereka tidak percaya menteri yang baru melihat matahari dalam ember.
"Abu, dapatkah Saya melihat matahari?" tanya seorang dari mereka.
"Langsung saja," jawab Abunawas.
Jadi, menteri itu pergi melihat matahari dalam ember. Ketika dia kembali, dia mengatakan kepada yang lain bahwa dia melihat matahari dalam ember.
"Anda ingin membuktikannya sendiri, Yang Mulia?" tanya Abunawas kepada raja.
Raja tersenyum. Dia tahu Abunawas mencoba melepaskan dirinya dari tugas mustahil tersebut. Dia berkata, "Tidak. Abu. Sekarang bungkus matahari itu!"
Abunawas mengambil tas kulit besar. Dia pergi ke tengah alun-alun. Dia membuka tas dan meletakkannya di tanah. Berikutnya, dia mengangkat ember dan menuangkan air ke dalam tas. Dia menutup tas dan berlari ke raja.
"Saya telah membungkus matahari, Yang Mulia," dia berkata dan menaruh tas di depan raja.
"Saya masih melihat matahari bersinar di langit, Abu," kata raja.
"Yang Mulia, menteri-menteri Anda mengatakan pada kami bahwa mereka melihat matahari di ember. Dan Saya menuang air ke dalam tas. Jadi, matahari ada dalam tas sekarang," bantah Abunawas.
"Abu, lihat keluar. Matahari sedang bersinar di langit!" raja membantah juga.
"Ya, Yang Mulia. Tapi itu matahari kedua."
"Matahari kedua? Hanya ada satu matahari di dunia.
"Anda benar, Yang Mulia. Hanya ada satu matahari di dunia. Jadi, ketika Saya menaruh matahari ke dalam tas, seluruh dunia berada dalam kegelapan total. Jadi Allah menggantikannya dengan matahari yang baru," Abunawas membatah dengan meyakinkan.
Raja tidak dapat membantah lebih lanjut. Lalu dia berjalan ke tas dan membuka tas. Dia tidak melihat matahari dalam tas. Lalu dia berkata, "Abu, tidak ada matahari dalam tas. Dimana matahari yang barusan kau bungkus?"
"Yang Mulia, ada dua matahari sekarang. Matahari dalam tas merasa bersalah karena Saya dapat menangkapnya. Ia akan menunjukkan dirinya hanya jika dia melihat matahari kedua," kata Abunawas.
"Apa maksudmu?" tanya raja.
Abunawas tidak menjawab pertanyaan itu. Dia mengambil tas dan membawanya keluar. Dia membuka tas di bawah matahari. Setelah sesaat dia berteriak, "Dia disini, Yang Mulia!"
Kembali