oleh: Sugeng Hariyanto
diterjemahkan oleh: Ferryanto
Kekuatan Gaib
Suatu hari Raja Aaron memanggil Abunawas ke istana. Dia bertanya, "Pernahkah kau mendengar cerita tentang seseorang dengan kekuatan gaib, Abu?"
"Tentu saja, Yang Mulia. Dengan kekuatan tersebut, seseorang tidak merasakan rasa sakit apapun atau terluka," Abunawas menjawab.
"Itu benar. Hari ini Saya menunjuk kau untuk mencari sebuah jimat. Orang-orang berkata dengan jimat siapapun tidak akan merasakan rasa sakit apapun. Tidak perduli bagaimana orang-orang mencoba melukainya, dia tidak akan menderita," kata raja.
Abunawas diam sesaat. Dia berpikir tentang tugas tersebut selama beberapa menit. Lalu dia berkata, "Besok Saya akan mendapatkannya" kata Abunawas.
Jawaban ini membuat banyak orang keheranan.
"Besok?!!" tanya raja dengan tidak percaya.
"Ya, besok, Yang Mulia." Jawab Abunawas.
Lalu Abunawas pulang ke rumah. Pada hari berikut, tepatnya sore hari, dia pergi ke istana lagi.
"Sudahkah kau mendapatkan jimat itu, Abu?" tanya raja.
"Ya,Yang Mulia."
"Dapatkah kau menunjukkannya padaku?"
"Ini dia," kata Abunawas. Dia mengeluarkan sepotong kain putih. "Jika seseorang mengikat kain ini disekitar pinggangnya, dia akan mendapat kekuatan gaib. Tak ada yang akan melukai tubuhnya."
"Bagaimana Saya dapat percaya itu? Saya butuh bukti, Abu?" kata raja.
"Itu mudah, Yang Mulia. Saya mengikat kain disekitar pinggang Anda. Biarkan para penjaga memukul Anda dan Anda tidak akan merasa sakit," kata Abunawas.
Raja terkejut. "Tidak, Abu. Mengapa tidak kau coba itu sendiri?"
"Tidak, Yang Mulia. Jika Saya melakukan itu pada diri Saya dan membiarkan orang-orang memukul saya, Saya dapat mengatakan sebuah kebohongan. Saya dapat saja Saya tidak merasa sakit apapun meskipun Saya sangat menderita sekali. Itulah mengapa Saya butuh seseorang untuk mencobanya," kata Abunawas.
Ada kesunyian sebelum raja bertanya, "Jadi, bagaimana kau akan membuktikannya, jika Saya tidak mau mencobanya?"
"Mari kita coba pada seorang tentara," kata Abunawas.
Raja tidak setuju dengan ide Abunawas, karena raja tidak percaya bahwa itu jimat sungguhan. Abunawas tidak membantah raja dan hanya berkata, "Saya punya tentara sendiri." Lalu dia keluar ke alun-alun istana dimana beberapa orang berkumpul.
Abunawas berjalan menuju sebuah pohon yang tumbuh di alun-alun istana. Beberapa orang segera berdiri disekitarnya. Dia mengikat kain disekitar pohon. Tiba-tiba dia mengambil sepotong kertas dari kantungnya. Kertas itu ditulisi dengan kata "TENTARA".
Berikutnya, dia membuka kertas dan menunjukkan kertas tersebut ke orang-orang. Dia bertanya, "Kalian tahu apa ini?"
Orang-orang binggung. Beberapa dari mereka berkata, "Kertas." Beberapa lainnya berkata, "Tentara."
Abunawas memegang kertas itu dengan tangan kirinya, dan menunjuk kata dengan tangan kanannya. Lalu dia menanyakan pertanyaan yang sama. "Kalian tahu apa ini?"
"TENTARA!" kata orang-orang itu bersama.
"Apa ini?" ulang Abunawas.
"TENTARA!" mereka berteriak bersama.
Abunawas tersenyum dan berkata, "Baiklah, Saya menaruh tentara di bawah pohon dan Saya mengikatnya di sekitar pohon menggunakan potongan kain tersebut."
Abunawas menyelipkan kertas antara kain putih dan pohon. Dia berkata ke orang-orang lagi, "Sekarang, lempar apapun yang kalian suka ke tentara itu!"
Orang-orang bingung. Lalu Abunawas memberi sebuah contoh. Dia mengambil sebuah batu dan melemparnya ke potongan kertas dengan emosi. Segera orang-orang lain melakukan hal yang sama juga.
Abunawas dengan tenang berjalan ke raja dan berbisik, "Anda lihat, Yang Mulia. Tentara itu tidak mengeluh sama sekali. Dia tidak merasa sakit!"
Kembali
"Tentu saja, Yang Mulia. Dengan kekuatan tersebut, seseorang tidak merasakan rasa sakit apapun atau terluka," Abunawas menjawab.
"Itu benar. Hari ini Saya menunjuk kau untuk mencari sebuah jimat. Orang-orang berkata dengan jimat siapapun tidak akan merasakan rasa sakit apapun. Tidak perduli bagaimana orang-orang mencoba melukainya, dia tidak akan menderita," kata raja.
Abunawas diam sesaat. Dia berpikir tentang tugas tersebut selama beberapa menit. Lalu dia berkata, "Besok Saya akan mendapatkannya" kata Abunawas.
Jawaban ini membuat banyak orang keheranan.
"Besok?!!" tanya raja dengan tidak percaya.
"Ya, besok, Yang Mulia." Jawab Abunawas.
Lalu Abunawas pulang ke rumah. Pada hari berikut, tepatnya sore hari, dia pergi ke istana lagi.
"Sudahkah kau mendapatkan jimat itu, Abu?" tanya raja.
"Ya,Yang Mulia."
"Dapatkah kau menunjukkannya padaku?"
"Ini dia," kata Abunawas. Dia mengeluarkan sepotong kain putih. "Jika seseorang mengikat kain ini disekitar pinggangnya, dia akan mendapat kekuatan gaib. Tak ada yang akan melukai tubuhnya."
"Bagaimana Saya dapat percaya itu? Saya butuh bukti, Abu?" kata raja.
"Itu mudah, Yang Mulia. Saya mengikat kain disekitar pinggang Anda. Biarkan para penjaga memukul Anda dan Anda tidak akan merasa sakit," kata Abunawas.
Raja terkejut. "Tidak, Abu. Mengapa tidak kau coba itu sendiri?"
"Tidak, Yang Mulia. Jika Saya melakukan itu pada diri Saya dan membiarkan orang-orang memukul saya, Saya dapat mengatakan sebuah kebohongan. Saya dapat saja Saya tidak merasa sakit apapun meskipun Saya sangat menderita sekali. Itulah mengapa Saya butuh seseorang untuk mencobanya," kata Abunawas.
Ada kesunyian sebelum raja bertanya, "Jadi, bagaimana kau akan membuktikannya, jika Saya tidak mau mencobanya?"
"Mari kita coba pada seorang tentara," kata Abunawas.
Raja tidak setuju dengan ide Abunawas, karena raja tidak percaya bahwa itu jimat sungguhan. Abunawas tidak membantah raja dan hanya berkata, "Saya punya tentara sendiri." Lalu dia keluar ke alun-alun istana dimana beberapa orang berkumpul.
Abunawas berjalan menuju sebuah pohon yang tumbuh di alun-alun istana. Beberapa orang segera berdiri disekitarnya. Dia mengikat kain disekitar pohon. Tiba-tiba dia mengambil sepotong kertas dari kantungnya. Kertas itu ditulisi dengan kata "TENTARA".
Berikutnya, dia membuka kertas dan menunjukkan kertas tersebut ke orang-orang. Dia bertanya, "Kalian tahu apa ini?"
Orang-orang binggung. Beberapa dari mereka berkata, "Kertas." Beberapa lainnya berkata, "Tentara."
Abunawas memegang kertas itu dengan tangan kirinya, dan menunjuk kata dengan tangan kanannya. Lalu dia menanyakan pertanyaan yang sama. "Kalian tahu apa ini?"
"TENTARA!" kata orang-orang itu bersama.
"Apa ini?" ulang Abunawas.
"TENTARA!" mereka berteriak bersama.
Abunawas tersenyum dan berkata, "Baiklah, Saya menaruh tentara di bawah pohon dan Saya mengikatnya di sekitar pohon menggunakan potongan kain tersebut."
Abunawas menyelipkan kertas antara kain putih dan pohon. Dia berkata ke orang-orang lagi, "Sekarang, lempar apapun yang kalian suka ke tentara itu!"
Orang-orang bingung. Lalu Abunawas memberi sebuah contoh. Dia mengambil sebuah batu dan melemparnya ke potongan kertas dengan emosi. Segera orang-orang lain melakukan hal yang sama juga.
Abunawas dengan tenang berjalan ke raja dan berbisik, "Anda lihat, Yang Mulia. Tentara itu tidak mengeluh sama sekali. Dia tidak merasa sakit!"
Kembali