Buah-Buahan untuk Raja

Nasreddin, Si Pria Pintar

oleh: Sugeng Hariyanto

diterjemahkan oleh: Ferryanto

Buah-Buahan untuk Raja

Ketika Raja Tamerlane menyerbu Turki, dia mendengar berita mengenai seorang pria bernama Nasreddin Hojja yang tinggal di Akshehir. Dia pergi kesana dan mengatur tempat berkemah. Lalu dia mengirim sekompi tentara untuk mengundang Nasreddin pergi ke tempat berkemah.
Tapi Nasreddin berpikir bahwa raja akan membunuh siapapun yang dia temui. Jadi, dia menolak undangan tersebut. Raja menyadari bahwa Nasreddin tidak mau bertemu dengannya segera. Lalu dia mengirim suatu batalyon tentara untuk memaksa dia untuk datang ke tempat berkemah.
Nasreddin sangat takut. Dia berkata, "Oke, Saya segera datang."
Tentara tersebut kembali dan melaporkan ke raja bahwa Nasreddin akan segera datang. Raja menunggunya selama beberapa jam. Tapi dia belum datang. Raja kehilangan kesabarannya. Dia melompat di atas kudanya dan mengendarai ke rumah Nasreddin.
Orang-orang yang mengetahui bahwa raja sedang datang menjerit, "Nasreddin, cepatlah. Raja menuju kemari!"
Nasreddin mengenakan pakaiannya dengan cepat dan berjalan ke tenda. Ketika dia berputar ke kanan pada jalan yang sangat sempit raja juga tiba disana. Kuda sangat ketakutan oleh kedatangannya yang tiba-tiba. Kuda itu melompat tinggi sehingga raja jatuh dari punggungnya.
Raja sangat marah dan memerintahkan tentara-tentaranya menangkap Nasreddin.
"Mengapa kau menangkapku?" tanya dia.
"Kau akan digantung di alun-alun kota. Kau telah melukai raja," jawab tentara.
"Bawa saya ke raja dulu," kata dia.
Para tentara membawanya ke raja.
Nasreddin bertanya, "Apa kesalahanku sehingga Saya harus dihukum?"
"Kau membawa kesialan untukku," jawab raja.
"Yang Mulia, siapa yang membawa kesialan, Yang Mulia atau Saya?" katanya, "Jika Saya membawa kesialan pada Yang Mulia, tentu, Yang Mulia telah jatuh dan mati. Jika demikian, akan adil untuk menghukumku. Tapi Yang Mulia yang membawa kesialan untuk saya."
"Bagaimana kau berkata begitu?" tanya raja.
Nasreddin menjawab, "Buktinya ketika Yang Mulia bertemu Saya, Saya akan dihukum. Jadi, Saya pikir bahwa Saya tidak membawa kesialan."
Raja berpikir bahwa Nasreddin benar. Dia memutuskan memaafkannya. Sebelum dia membiarkan Nasreddin pergi, dia menanyakan sebuah pertanyaan, "Katakan Nasreddin, apakah Saya orang yang lalim atau pria yang terpelajar?"
Nasreddin menjawab, "Yang Mulia bukan seorang yang lalim ataupun seorang yang terpelajar. Kami, rakyat, adalah lalim jadi Tuhan mengirim Yang Mulia untuk menghukum kami."
Raja sangat gembira dengan jawaban tersebut dan membiarkan Nasreddin pergi.
Beberapa bulan kemudian musin buah datang. Nasreddin berkata pada istrinya, "Mari kita memetik beberapa buah ara masak dan mempersembahkannya kepada raja."
Mereka pergi ke kebun dan mulai memetik beberapa buah ara. Istrinya melihat bahwa buah pir juga sudah masak. Mari kita petik beberapa, juga, dan mempersembahkannya ke raja."
"Tidak, jangan. Lakukan saja apa yang Saya minta kau lakukan," jawab dia.
Beberapa menit kemudian, istrinya melihat sebuah pohon apel yang kaya dengan apel-apel besar dan segar. Dia berkata, "Lihat apel-apel itu. Mereka baik untuk dpersembahkan kepada raja. Mari kita memetik beberapa dari apel-apel itu. Apel-apel sangat lebih baik dari buah-buah ara.
"Tidak. Saya telah katakan kau petik apa yang Saya minta kau petik," kata Nasreddin.
Akhirnya mereka mendapatkan sekeranjang penuh buah ara masak. Hari berikut Nasreddin membawa buah-buah ara tersebut kepada raja.
"Silahkan, duduk," kata raja. Dia menaruh keranjang pada meja kecil didepannya. Lalu dia membuka keranjang itu. Dia marah karena buah-buahan yang ada hanya ara, sangat murah dan bukan buah yang lezat. Dia mengambil ara tersebut dan melemparkannya ke Nasreddin satu per satu hingga tidak ada yang tertinggal di keranjang.
Nasreddin mengangkat wajahnya dan melihat raja. Dia bergumam, "Terimakasih Tuhan."
Raja heran mengapa Nasreddin berterimakasih pada Tuhan setelah dilempar dengan sekeranjang buah ara. Dia berkata, "Mengapa kau berterimakasih pada Tuhan?"
"Yang Mulia, Saya berterimakasih pada Tuhan karena Saya telah melakukan apa yang saya pikirkan," jawabnya.
Raja penasaran. Dia bertanya lebih lanjut, "Apa yang telah kau pikirkan?"
"Yang Mulia, pagi ini ketika istriku dan Saya sedang memetik buah-buah ara ini, istri saya menyarankan agar kami memetik juga buah-buah pir dan apel untuk Yang Mulia. Saya pikir bahwa kami tidak harus melakukannya. Saya pikir bahwa kami harus mempersembahkan Yang Mulia buah-buah ara masak yang lembut daripada apel dan pir. Saya berterimakasih pada Tuhan karena Saya tidak melakukan apa yang istriku telah sarankan. Jika Saya melakukan saran istriku untuk memetik apel dan pir, tentu saja, Saya telah kehilangan kepalaku sekarang."

Back