oleh: Sugeng Hariyanto
diterjemahkan oleh: Ferryanto
Penampilan Adalah Penting
Nasreddin seorang pria yang begitu rajin berdoa kepada Tuhan hingga kadang-kadang dia lupa memperoleh mata pencaharian. Tentu saja, istrinya menjadi marah dengannya.
Dia berkata, "Oke, Saya pikir kau telah berdoa kepada Tuhan untuk waktu yang lama. Sekarang kita tidak punya sesuatu untuk makan karena kau tidak bekerja. Minta uang dari Tuhan."
Nasreddin pikir istrinya mungkin benar. Lalu dia pergi ke halaman belakang dan berdoa supaya Tuhan memberinya uang. Dia berkata, "Tuhanku, berikan saya 100 koin emas. Saya pikir Saya pantas menerimanya karena Saya telah berdoa selama waktu yang panjang."
Tetangganya seorang kaya tapi kikir. Dia mendengar doa Nasreddin. Dia pergi ke halaman belakang dan melihat Nasreddin dari sana. Dia tersenyum karena dia pikir bahwa Nasreddin melakukan sesuatu yang bodoh. Dia mau mentertawakannya. Dia pergi menuju rumahnya dengan cepat mengambil untuk mengambil 100 koin perak. Lalu dia melempar 100 koin perak ke kepala Nasreddin.
Orang kaya itu tersenyum melihat Nasreddin berterima kasih pada Tuhan untuk uang tersebut. Dan Nasreddin juga sangat bahagia karena dia mendapat 100 koin perak walaupun dia berdoa untuk uang emas. Dia berpikir bahwa koin perak lebih baik daripada tidak ada.
Nasreddin mengambil uang tersebut dan memberi beberapa ke istrinya. Dia menggunakan sisanya untuk berdagang beberapa barang murah. Akhirnya meskipun dia masih miskin tapi dia mendapat beberapa keuntungan yang cukup untuk membeli sesuatu untuk rumahnya. Dia membawa beberapa perabotan indah untuk rumahnya. Melihat ini semua, si tetangga kaya yang kikir sangat cemburu padanya. Dia mau mendapatkan uangnya kembali.
"Nasreddin, ketika kau berdoa meminta uang beberapa bulan lalu, Saya mendengarmu. Lalu Saya melempar kau 100 koin perak. Itu saya yang memberi kau uang, bukan Tuhan. Karena sekarang kau telah membeli beberapa perkakas rumah dengan uang tersebut, saya pikir kau harus memberikan perkakas rumah itu padaku," kata tetangga itu suatu hari.
"Tidak, saya tidak akan memberikan mereka padamu karena saya tidak meminta uang padamu. Jika kau memberikan pada saya, itu urusanmu, bukan urusanku. Uangnya milikku," jawab dia.
Tetangga itu membawa kasus tersebut ke pengadilan. Dia melaporkan bahwa Nasreddin tidak memenuhi kewajiban persetujuan pinjaman antara mereka.
Hari pengadilan ditentukan. Pada harinya tetangga itu menemput Nasreddin. Dia memakai jubah mewah panjang dan mengendarai kuda cantik.
Nasreddin berkata, "Tidak adil bagiku pergi ke pengadilan dengan pakaian lusuh ini. Saya akan berkata bahwa hakim akan berpikir bahwa saya salah hanya karena saya orang miskin. Dia akan berpikir bahwa itu beralasan bagi pria miskin untuk menipu orang lain karena dia butuh uang."
"Jadi, apa maumu?" kata tetangga itu.
"Pengadilan akan adil hanya jika kau meminjamkan saya jubah dan kudamu. Jika saya berpakaian dengan jubah hakim tidak akan mengadili saya hanya karena kemiskinanku," katanya.
Tetangga kaya itu turun dari kudanya. Dia memberikan kudanya ke Nasreddin. Dia melepaskan jubahnya dan meminjamkannya ke Nasreddin juga. Lalu mereka pergi ke gedung pengadilan.
Tertuduh, Nasreddin, diminta menuju ke depan pertama.
"Bagaimana menurutmu tuduhan itu?" tanya hakim.
Nasreddin menjawab, "Pria itu sedikit agak gila, Tuan Hakim. Jadi, kita harus berpikir apapun yang dia katakan, termasuk tuduhan."
"Dapatkah kau membuktikannya?" tanya hakim.
"Ya, Tuan. Gejalanya adalah ia selalu berkata bahwa segala sesuatu di dunia ini kepunyaannya, termasuk kuda saya dan jubah ini." "Tapi, mereka semua benar-benar milikku. Kau meminjam mereka dari saya pagi ini!" orang kaya itu berteriak.
"Itu buktinya!" kata Nasreddin.
Hakim percaya bahwa orang kaya itu gila. Lalu Nasreddin dibebaskan dari tuduhan.
Back
Dia berkata, "Oke, Saya pikir kau telah berdoa kepada Tuhan untuk waktu yang lama. Sekarang kita tidak punya sesuatu untuk makan karena kau tidak bekerja. Minta uang dari Tuhan."
Nasreddin pikir istrinya mungkin benar. Lalu dia pergi ke halaman belakang dan berdoa supaya Tuhan memberinya uang. Dia berkata, "Tuhanku, berikan saya 100 koin emas. Saya pikir Saya pantas menerimanya karena Saya telah berdoa selama waktu yang panjang."
Tetangganya seorang kaya tapi kikir. Dia mendengar doa Nasreddin. Dia pergi ke halaman belakang dan melihat Nasreddin dari sana. Dia tersenyum karena dia pikir bahwa Nasreddin melakukan sesuatu yang bodoh. Dia mau mentertawakannya. Dia pergi menuju rumahnya dengan cepat mengambil untuk mengambil 100 koin perak. Lalu dia melempar 100 koin perak ke kepala Nasreddin.
Orang kaya itu tersenyum melihat Nasreddin berterima kasih pada Tuhan untuk uang tersebut. Dan Nasreddin juga sangat bahagia karena dia mendapat 100 koin perak walaupun dia berdoa untuk uang emas. Dia berpikir bahwa koin perak lebih baik daripada tidak ada.
Nasreddin mengambil uang tersebut dan memberi beberapa ke istrinya. Dia menggunakan sisanya untuk berdagang beberapa barang murah. Akhirnya meskipun dia masih miskin tapi dia mendapat beberapa keuntungan yang cukup untuk membeli sesuatu untuk rumahnya. Dia membawa beberapa perabotan indah untuk rumahnya. Melihat ini semua, si tetangga kaya yang kikir sangat cemburu padanya. Dia mau mendapatkan uangnya kembali.
"Nasreddin, ketika kau berdoa meminta uang beberapa bulan lalu, Saya mendengarmu. Lalu Saya melempar kau 100 koin perak. Itu saya yang memberi kau uang, bukan Tuhan. Karena sekarang kau telah membeli beberapa perkakas rumah dengan uang tersebut, saya pikir kau harus memberikan perkakas rumah itu padaku," kata tetangga itu suatu hari.
"Tidak, saya tidak akan memberikan mereka padamu karena saya tidak meminta uang padamu. Jika kau memberikan pada saya, itu urusanmu, bukan urusanku. Uangnya milikku," jawab dia.
Tetangga itu membawa kasus tersebut ke pengadilan. Dia melaporkan bahwa Nasreddin tidak memenuhi kewajiban persetujuan pinjaman antara mereka.
Hari pengadilan ditentukan. Pada harinya tetangga itu menemput Nasreddin. Dia memakai jubah mewah panjang dan mengendarai kuda cantik.
Nasreddin berkata, "Tidak adil bagiku pergi ke pengadilan dengan pakaian lusuh ini. Saya akan berkata bahwa hakim akan berpikir bahwa saya salah hanya karena saya orang miskin. Dia akan berpikir bahwa itu beralasan bagi pria miskin untuk menipu orang lain karena dia butuh uang."
"Jadi, apa maumu?" kata tetangga itu.
"Pengadilan akan adil hanya jika kau meminjamkan saya jubah dan kudamu. Jika saya berpakaian dengan jubah hakim tidak akan mengadili saya hanya karena kemiskinanku," katanya.
Tetangga kaya itu turun dari kudanya. Dia memberikan kudanya ke Nasreddin. Dia melepaskan jubahnya dan meminjamkannya ke Nasreddin juga. Lalu mereka pergi ke gedung pengadilan.
Tertuduh, Nasreddin, diminta menuju ke depan pertama.
"Bagaimana menurutmu tuduhan itu?" tanya hakim.
Nasreddin menjawab, "Pria itu sedikit agak gila, Tuan Hakim. Jadi, kita harus berpikir apapun yang dia katakan, termasuk tuduhan."
"Dapatkah kau membuktikannya?" tanya hakim.
"Ya, Tuan. Gejalanya adalah ia selalu berkata bahwa segala sesuatu di dunia ini kepunyaannya, termasuk kuda saya dan jubah ini." "Tapi, mereka semua benar-benar milikku. Kau meminjam mereka dari saya pagi ini!" orang kaya itu berteriak.
"Itu buktinya!" kata Nasreddin.
Hakim percaya bahwa orang kaya itu gila. Lalu Nasreddin dibebaskan dari tuduhan.
Back