oleh: Sugeng Hariyanto
diterjemahkan oleh: Ferryanto
Bahasa Burung
Para menteri raja sering iri Raja Aaron's perhatian ke Abunawas. Abu sering mendapat hadiah dari raja mereka. Mereka membuat rencana untuk mempermalukan Abunawas di depan raja. Oleh karena itu, mereka menciptakan cerita palsu untuk membuat raja mereka percaya bahwa Abunawas dapat menafsirkan nyanyian burung. Salah seorang dari mereka berkata ke raja, "Yang Mulia, burung jalak Anda terlalu cantik dan bernyanyi dengan indah."
"Saya tahu," kata raja.
"Apakah Anda mengerti nyanyiannya. Yang Mulia?"
"Tidak, tentu tidak. Tak seorangun tahu."
"Ada seorang pria di negeri ini yang dapat menafsirkan bahasa burung. Dia adalah Abunawas. Orang-orang bekata demikian."
"Sungguh?" raja mulai menjadi tertarik.
Pagi berikut Abu ada dalam istana. Raja dan para menteri sedang duduk disekitar sangkar burung yang indah.
"Abu," raja memulai. "Orang-orang berkata bahwa hanya kau pria di negeriku yang punya kemampuan menafsirkan bahasa burung."
"Tidak, Yang Mulia. Itu bohong!"
"Oh, ayolah, Abu. Coba tafsirkan nyanyian burung ini untukku."
Para menteri tersenyum melihat Abunawas menunduk dalam kesedihannya. Mereka pikir mereka akan menang kali ini karena segera mereka akan melihat wajah merah Abu. Setelah kesunyian selama beberapa waktu Abu akhirnya mengangguk dengan pelan dan berkata "Baiklah, Yang Mulia. Saya akan mencoba yang terbaik yang saya dapat lakukan."
"Anak baik. Kerjakan itu!"
Tak lama kemudian burung itu bernyanyi dengan riang.
"Apa yang dikatakan burung itu dalam lagunya, Abu?"
"Burung itu berkata selamat pagi," kata Abu.
Raja dan para menteri tertawa. Burung itu bernyanyi lagi. Kali itu burung bernyanyi selama semenit.
"Apa yang dikatakannya dengan lagu yang panjang itu?" tanya raja.
"Burung berkata semua menteri rakus," Abu menjawab. Semua menteri tetap tenang tapi wajah mereka tidak dapat menyembunyikan kemarahan mereka. Salah seorang dari mereka protes, "Itu tidak benar!"
Abu dengan cepat menjawab, "Jika Anda tidak percaya saya, tafsirkan sendiri!"
"Baiklah, baiklah. Abu, kau boleh melanjutkan," raja berkata. Burung bernyanyi lagi, lebih lama dari sebelumnya. Abu berkata kepada raja, "Burung itu berkata para menteri sering ngomongin sesuatu yang jelek mengenai Anda."
Suasana riuh. Para menteri marah. Seseorang dari mereka berkata, "Itu bohong besar!"
Abu menjawab kembali, "Jika Anda pikir Anda mengerti bahasa burung, mengapa tidak menafsirkan sendiri?"
Sekali lagi raja menenangkan mereka. Lagi, burung bernyanyi dengan merdu selama beberapa menit. Setelah berhenti Abu menafsirkan seperti ini, "Semua menteri mau Anda segera mati karena mereka bosan dengan Anda!"
Para menteri bangkit dari tempat duduk mereka dan menuju ke Abu. Mereka bermaksud memukul Abu tapi Abu telah berlari keluar ruangan. Dia menoleh kebelakang dan tersenyum. Raja meninggalkan ruangan dengan tenang. Dia tampak dikecewakan. Para menteri saling melihat dengan rasa bersalah.
Kembali
"Saya tahu," kata raja.
"Apakah Anda mengerti nyanyiannya. Yang Mulia?"
"Tidak, tentu tidak. Tak seorangun tahu."
"Ada seorang pria di negeri ini yang dapat menafsirkan bahasa burung. Dia adalah Abunawas. Orang-orang bekata demikian."
"Sungguh?" raja mulai menjadi tertarik.
Pagi berikut Abu ada dalam istana. Raja dan para menteri sedang duduk disekitar sangkar burung yang indah.
"Abu," raja memulai. "Orang-orang berkata bahwa hanya kau pria di negeriku yang punya kemampuan menafsirkan bahasa burung."
"Tidak, Yang Mulia. Itu bohong!"
"Oh, ayolah, Abu. Coba tafsirkan nyanyian burung ini untukku."
Para menteri tersenyum melihat Abunawas menunduk dalam kesedihannya. Mereka pikir mereka akan menang kali ini karena segera mereka akan melihat wajah merah Abu. Setelah kesunyian selama beberapa waktu Abu akhirnya mengangguk dengan pelan dan berkata "Baiklah, Yang Mulia. Saya akan mencoba yang terbaik yang saya dapat lakukan."
"Anak baik. Kerjakan itu!"
Tak lama kemudian burung itu bernyanyi dengan riang.
"Apa yang dikatakan burung itu dalam lagunya, Abu?"
"Burung itu berkata selamat pagi," kata Abu.
Raja dan para menteri tertawa. Burung itu bernyanyi lagi. Kali itu burung bernyanyi selama semenit.
"Apa yang dikatakannya dengan lagu yang panjang itu?" tanya raja.
"Burung berkata semua menteri rakus," Abu menjawab. Semua menteri tetap tenang tapi wajah mereka tidak dapat menyembunyikan kemarahan mereka. Salah seorang dari mereka protes, "Itu tidak benar!"
Abu dengan cepat menjawab, "Jika Anda tidak percaya saya, tafsirkan sendiri!"
"Baiklah, baiklah. Abu, kau boleh melanjutkan," raja berkata. Burung bernyanyi lagi, lebih lama dari sebelumnya. Abu berkata kepada raja, "Burung itu berkata para menteri sering ngomongin sesuatu yang jelek mengenai Anda."
Suasana riuh. Para menteri marah. Seseorang dari mereka berkata, "Itu bohong besar!"
Abu menjawab kembali, "Jika Anda pikir Anda mengerti bahasa burung, mengapa tidak menafsirkan sendiri?"
Sekali lagi raja menenangkan mereka. Lagi, burung bernyanyi dengan merdu selama beberapa menit. Setelah berhenti Abu menafsirkan seperti ini, "Semua menteri mau Anda segera mati karena mereka bosan dengan Anda!"
Para menteri bangkit dari tempat duduk mereka dan menuju ke Abu. Mereka bermaksud memukul Abu tapi Abu telah berlari keluar ruangan. Dia menoleh kebelakang dan tersenyum. Raja meninggalkan ruangan dengan tenang. Dia tampak dikecewakan. Para menteri saling melihat dengan rasa bersalah.
Kembali