Abunawas Menuju Singgasana

Abunawas & Raja Aaron

oleh: Sugeng Hariyanto

diterjemahkan oleh: Ferryanto

Abunawas Menuju Singgasana

Semua menteri dan orang-orang penting di negeri harus melihat raja hari itu. Raja memperhatikan bahwa Abunawas tidak datang ke istana. Dia mengirim seorang penjaga untuk memanggilnya.
Segera Abunawas menuju istana. Waktu itu dia tahu bahwa raja marah dengannya. Dia tidak berani memandang wajah raja.
"Abu, mengapa kau tidak mau melihatku hari ini?" tanya raja dengan singkat.
"Maafkan Saya, Yang Mulia. Saya punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan," jawab Abunawas.
"Jadi, kau pikir pekerjaan-pekerjaanmu lebih penting dariku?" tanya raja dengan marah.
Abunawas diam. Lalu raja melanjutkan, "Saya ingin menanyakan kau beberapa pertanyaan. Kau harus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan benar. Jika tidak, kau akan dihukum!"
"Apa pertanyaan-pertanyaannya, Yang Mulia?"
"Pertama, apa yang Tuhan kerjakan sekarang? Kedua, berapa banyak bintang yang ada di langit? Dan akhirnya, dimana pusat bumi?" tanya raja.
"Maafkan saya, Yang Mulia. Saya tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan segera. Yang Mulia harus memenuhi satu syarat sebelum Saya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu," kata si pria pintar.
"Apa itu?" tanya raja.
"Jika Anda sudi untuk turun dari singgasana Anda, Saya akan duduk di atasnya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda," jawab Abunawas.
Raja turun dari singgasana. Abunawas duduk di atasnya. Kakinya melangkah di atas tikar yang terbuat dari potongan kulit kambing.
"Abunawas, jawab pertanyaan-pertanyaanku!" kata raja yang waktu itu berdiri di lantai.
"Pertanyaan pertama Anda adalah apa yang Tuhan kerjakan hari ini. Saat ini Tuhan sedang menyuruh Anda turun dari singgasana dan mengangkat seorang yang malas, Abunawas, ke singgasana negeri ini," jawabnya.
Ada kesunyian sebelum raja bertanya, "Bagaimana pertanyaan kedua? Berapa banyak bintang-bintang yang ada di langit?"
"Yang Mulia, jika Anda sungguh mau tahu jumlah bintang-bintang di langit, mari saya memberitahu Anda," kata Abunawas. Tangan kanannya mengambil kulit kambing dari kakinya. "Jumlah bintang-bintang sama dengan jumlah bulu pada kulit kambing ini. Anda dapat menghitungnya, jika Anda tidak percaya saya."
"Siapa di dunia yang dapat menghitung bulu kambing?" tanya raja sedikit dengan marah.
Abunawas menjawab dengan cepat. "Hal sama terjadi pada bintang-bintang. Siapa di dunia yang dapat menghitung bintang-bintang? Hanya Tuhan yang tahu!"
"Baiklah. Sekarang Saya mau tahu, dimana pusat bumi. Jawab itu dengan cepat!"
Abunawas dengan cepat merenggut tombak disampingnya. Dia melempar tombak itu ke lantai. Tombak itu berdiri tepat di depan raja.
"Yang Mulia, itulah pusat bumi. Jika Anda tidak percaya saya, suruh orang-orang Anda mengukur jaraknya dari Barat, Timur, Utara dan Selatan!"
"Abu, siapa dapat mengukur jaraknya?" tanya raja.
"Anda benar, Yang Mulia. Hanya Tuhan yang tahu titik pusatnya, tidak Abunawas ataupun Raja Aaron," Abunawas menjawab dengan tenang.
Ketika dia mendengar jawaban itu, raja menyadari bahwa Abunawas sungguh seorang pintar dan pria bijaksana. Dia mencintainya lebih dari sebelumnya.

Kembali