oleh: Sugeng Hariyanto
diterjemahkan oleh: Ferryanto
Menyelidiki Bulan
Raja Aaron memberikan misi mustahil lain hari itu. Dia meminta Abunawas untuk pergi ke bulan.
"Pergi ke bulan?" tanya Abunawas.
"Ya, Abu. Saya tahu kau adalah seorang pria yang pintar. Kau harus dapat pergi ke bulan," kata raja.
"Oke, Saya akan pergi kesana besok sore, Yang Mulia," jawab Abunawas dengan cepat.
Raja terkejut. Dia tidak pernah mengira mendapatkan jawaban pasti seperti itu. Dia bertanya, "Dari mana kau akan pergi?"
"Dari rumahku," jawab si pria pintar.
"Baiklah, Saya akan pergi ke sana untuk melihat kau pergi ke bulan besok sore," kata raja.
Sore berikut raja dan para menterinya pergi ke rumah Abunawas. Bulan purnama bersinar dengan terang malam itu. Bintang-bintang menyebar di semua penjuru langit.
Ketika raja dan para menterinya tiba disana, mereka tidak dapat menemukan Abunawas di rumah. Mereka hanya bertemu istrinya.
"Dimana Abunawas?" tanya raja.
"Dia baru berangkat ke bulan, Yang Mulia," jawab wanita itu. "Dia berkata bahwa dia akan kembali segera."
Raja dan para menteri memandang satu dengan lainnya. Lalu seorang menteri bertanya, "Bagaimana dia berangkat ke bulan?"
"Dia memanjat pohon palem di sebelah sana."
"Bagaimana dia akan kembali?" tanya raja.
"Dia akan kembali melalui pohon palem juga," jawab istri Abunawas.
"Dimana pohon palem itu?"
"Di sebelah sana," jawabnya, mengarahkan telunjuknya ke pohon palem di pekarangan.
Raja melihat bayangan hitam turun dari pohon.
"Apakah itu kau, Abunawas?" tanya raja.
"Ya, ini saya, Yang Mulia," dia menjawab.
"Dari mana kau datang?"
"Saya baru saja menyelidiki bulan."
"Apa kau menyelidiki bulan dari atas pohon palem itu?" tanya raja.
"Tidak," Abunawas menjawab. Ketika bulan mencapai tanah katanya, "Pohon hanya sekedar tangga lewat untuk Saya pergi ke bulan."
Raja hanya tersenyum saja ketika mendengar jawaban Abunawas.
"Jadi kau sungguh telah melangkah ke bulan dan melihat sesuatu disana?" tanya raja.
"Ya, Benar," Abunawas menjawab dengan singkat.
"Apa yang kau lihat disana?"
"Tanah dan gunung-gunung. Tidak ada tumbuh-tumbuhan."
"Baiklah. Jika kau sungguh pergi kesana, siapa saksi-saksinya? Siapa melihat kau pergi ke bulan, berjalan disana, dan kembali ke bumi?" tanya raja tersenyum.
Tidak dapat diramalkan Abunawas tersenyum mendengar pertanyaan itu. "Saya akan memberi Anda tidak hanya tiga kesaksian, tapi sepuluh atau bahkan ribuan dari mereka," kata Abunawas dengan yakin.
"Siapa mereka?" tanya raja.
Abunawas mengarahkan jarinya ke langit.
"Bintang-bintang adalah saksiku. Jika Anda tidak mempercayaiku, Anda dapat menanyakan mereka kemudian," kata Abunawas dengan yakin.
Mendengar jawaban, raja tertawa. "Mengapa kau tidak menunggu kami untuk menyaksikan kau pergi ke bulan?" raja bertanya.
"Anda terlalu lambat, Yang Mulia. Saya hanya dapat pergi ke bulan pada waktu tertentu saja."
Kembali
"Pergi ke bulan?" tanya Abunawas.
"Ya, Abu. Saya tahu kau adalah seorang pria yang pintar. Kau harus dapat pergi ke bulan," kata raja.
"Oke, Saya akan pergi kesana besok sore, Yang Mulia," jawab Abunawas dengan cepat.
Raja terkejut. Dia tidak pernah mengira mendapatkan jawaban pasti seperti itu. Dia bertanya, "Dari mana kau akan pergi?"
"Dari rumahku," jawab si pria pintar.
"Baiklah, Saya akan pergi ke sana untuk melihat kau pergi ke bulan besok sore," kata raja.
Sore berikut raja dan para menterinya pergi ke rumah Abunawas. Bulan purnama bersinar dengan terang malam itu. Bintang-bintang menyebar di semua penjuru langit.
Ketika raja dan para menterinya tiba disana, mereka tidak dapat menemukan Abunawas di rumah. Mereka hanya bertemu istrinya.
"Dimana Abunawas?" tanya raja.
"Dia baru berangkat ke bulan, Yang Mulia," jawab wanita itu. "Dia berkata bahwa dia akan kembali segera."
Raja dan para menteri memandang satu dengan lainnya. Lalu seorang menteri bertanya, "Bagaimana dia berangkat ke bulan?"
"Dia memanjat pohon palem di sebelah sana."
"Bagaimana dia akan kembali?" tanya raja.
"Dia akan kembali melalui pohon palem juga," jawab istri Abunawas.
"Dimana pohon palem itu?"
"Di sebelah sana," jawabnya, mengarahkan telunjuknya ke pohon palem di pekarangan.
Raja melihat bayangan hitam turun dari pohon.
"Apakah itu kau, Abunawas?" tanya raja.
"Ya, ini saya, Yang Mulia," dia menjawab.
"Dari mana kau datang?"
"Saya baru saja menyelidiki bulan."
"Apa kau menyelidiki bulan dari atas pohon palem itu?" tanya raja.
"Tidak," Abunawas menjawab. Ketika bulan mencapai tanah katanya, "Pohon hanya sekedar tangga lewat untuk Saya pergi ke bulan."
Raja hanya tersenyum saja ketika mendengar jawaban Abunawas.
"Jadi kau sungguh telah melangkah ke bulan dan melihat sesuatu disana?" tanya raja.
"Ya, Benar," Abunawas menjawab dengan singkat.
"Apa yang kau lihat disana?"
"Tanah dan gunung-gunung. Tidak ada tumbuh-tumbuhan."
"Baiklah. Jika kau sungguh pergi kesana, siapa saksi-saksinya? Siapa melihat kau pergi ke bulan, berjalan disana, dan kembali ke bumi?" tanya raja tersenyum.
Tidak dapat diramalkan Abunawas tersenyum mendengar pertanyaan itu. "Saya akan memberi Anda tidak hanya tiga kesaksian, tapi sepuluh atau bahkan ribuan dari mereka," kata Abunawas dengan yakin.
"Siapa mereka?" tanya raja.
Abunawas mengarahkan jarinya ke langit.
"Bintang-bintang adalah saksiku. Jika Anda tidak mempercayaiku, Anda dapat menanyakan mereka kemudian," kata Abunawas dengan yakin.
Mendengar jawaban, raja tertawa. "Mengapa kau tidak menunggu kami untuk menyaksikan kau pergi ke bulan?" raja bertanya.
"Anda terlalu lambat, Yang Mulia. Saya hanya dapat pergi ke bulan pada waktu tertentu saja."
Kembali