Inggris : Sugeng Hariyato
Indonesia : Ferryanto
Di Surga
Suatu hari Nasreddin pergi ke kota lain. Dia mengendarai keledainya. Di jalan dia bertemu dengan seorang pria. Pria itu tiba-tiba menanyakan pertanyaan aneh, "Tolong, katakan pada Saya kapan Saya akan mati?"
Tentu saja, Nasreddin dibingungkan menjawab pertanyaan itu. Dia berkata, "Bagaimana Saya tahu mengenai itu? Jangan menggelikan."
Tapi pria itu mendesaknya menjawab pertanyaan itu. Nasreddin tetap mengatakan bahwa sebenarnya dia tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Pria itu terlihat kecewa.
"Nasreddin, bahkan meskipun kau tidak dapat memberitahu kapan Saya akan mati, tapi Saya dapat memberitahu kau kapan kau akan mati," kata pria itu.
"Maka beritahu pada Saya kapan Saya akan mati?" kata Nasreddin.
"Kau akan mati jika keledaimu telah meringkik tiga kali," kata pria itu.
Lalu Nasreddin melanjutkan perjalanannya. Tiba-tiba keledainya meringkik tiga kali. Segera dia terlentang di jalan dan bergumam, "Saya mati sekarang."
Keledainya pergi. Semenit kemudian dia melihat keledainya ditangkap oleh seekor rubah besar. Rubah besar itu melahap keledai itu.
Nasreddin berkata dengan sedih, "Keledaiku, akhirnya kematian datang padamu dan saya pada waktu yang sama."
Pada malam itu Nasreddin tidak pulang ke rumah. Istrinya sangat khawatir. Dia meminta para tetangganya membantu mencari Nasreddin. Untungnya mereka menemukannya.
Istrinya bertanya, "Mengapa kau tidak pulag ke rumah?"
"Istriku sayang, Saya tidak dapat pulang ke rumah karena Saya telah mati sekarang. Kau harus membawa dan menguburku dengan baik," jawabnya.
Istrinya dan tetangga-tetangganya mencoba meyakinkannya bahwa dia belum mati. Tapi mereka gagal. Nasreddin tetap berpikir bahwa dia telah mati. Jadi, istrinya dan tetangga-tetangganya membawanya pulang dan mengumumkan kematiannya ke tetangga-tetangga lain.
Setelah serangkaian doa, dia dibawa ke pemakaman. Tapi istrinya meminta orang untuk tidak menutup kuburan dengan apapun. Ia berharap bahwa suatu hari suaminya akan menyadari bahwa dia sebenarnya belum mati.
Kira-kira dua jam kemudian Nasreddin mendengar suara aneh. Sebenarnya suara itu datang dari seekor keledai yang membawa piring-piring dan mangkuk-mangkuk. Keledai itu diikuti oleh seorang pria; ia adalah penjual. Ketika suara itu mendekat, dia mengangkat kepalanya untuk melihat apa yang datang. Ketika dia memperlihatkan kepalanya keledai itu sangat terkejut dan ketakutan. Keledai itu mencongklang sementara sebelum ia berlari dengan cepat. Ia menjatuhkan semua muatan. Piring-piring dan mangkuk-mangkuk pecah berkeping-keping. Melihat itu, si penjual menjadi marah dengan Nasreddin hingga dia memukul Nasreddin berulang-ulang.
"Mengapa kau memukulku?" Saya sudah mati. Kau tidak dapat memukul orang mati," Nasreddin berteriak.
Si penjual tidak mendengar apapun kata Nasreddin dan tetap memukulnya. Akhirnya Nasreddin tidak dapat menahan pukulan itu dan berlari ke rumah.
Istrinya sangat gembira karena dia kembali ke rumah. Begitu juga para tetangga. Salah satu dari tetangga bertanya padanya, "Nasreddin, kau telah berada di Surga. Katakan pada kami, bagaimana perasaanmu di Surga."
Dia menjawab, "Saya sudah merasa sangat baik, tenang , dan damai jika tidak Saya ketakutan karena seekor keledai membawa banyak piring dan mangkuk."
Kembali
Tentu saja, Nasreddin dibingungkan menjawab pertanyaan itu. Dia berkata, "Bagaimana Saya tahu mengenai itu? Jangan menggelikan."
Tapi pria itu mendesaknya menjawab pertanyaan itu. Nasreddin tetap mengatakan bahwa sebenarnya dia tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Pria itu terlihat kecewa.
"Nasreddin, bahkan meskipun kau tidak dapat memberitahu kapan Saya akan mati, tapi Saya dapat memberitahu kau kapan kau akan mati," kata pria itu.
"Maka beritahu pada Saya kapan Saya akan mati?" kata Nasreddin.
"Kau akan mati jika keledaimu telah meringkik tiga kali," kata pria itu.
Lalu Nasreddin melanjutkan perjalanannya. Tiba-tiba keledainya meringkik tiga kali. Segera dia terlentang di jalan dan bergumam, "Saya mati sekarang."
Keledainya pergi. Semenit kemudian dia melihat keledainya ditangkap oleh seekor rubah besar. Rubah besar itu melahap keledai itu.
Nasreddin berkata dengan sedih, "Keledaiku, akhirnya kematian datang padamu dan saya pada waktu yang sama."
Pada malam itu Nasreddin tidak pulang ke rumah. Istrinya sangat khawatir. Dia meminta para tetangganya membantu mencari Nasreddin. Untungnya mereka menemukannya.
Istrinya bertanya, "Mengapa kau tidak pulag ke rumah?"
"Istriku sayang, Saya tidak dapat pulang ke rumah karena Saya telah mati sekarang. Kau harus membawa dan menguburku dengan baik," jawabnya.
Istrinya dan tetangga-tetangganya mencoba meyakinkannya bahwa dia belum mati. Tapi mereka gagal. Nasreddin tetap berpikir bahwa dia telah mati. Jadi, istrinya dan tetangga-tetangganya membawanya pulang dan mengumumkan kematiannya ke tetangga-tetangga lain.
Setelah serangkaian doa, dia dibawa ke pemakaman. Tapi istrinya meminta orang untuk tidak menutup kuburan dengan apapun. Ia berharap bahwa suatu hari suaminya akan menyadari bahwa dia sebenarnya belum mati.
Kira-kira dua jam kemudian Nasreddin mendengar suara aneh. Sebenarnya suara itu datang dari seekor keledai yang membawa piring-piring dan mangkuk-mangkuk. Keledai itu diikuti oleh seorang pria; ia adalah penjual. Ketika suara itu mendekat, dia mengangkat kepalanya untuk melihat apa yang datang. Ketika dia memperlihatkan kepalanya keledai itu sangat terkejut dan ketakutan. Keledai itu mencongklang sementara sebelum ia berlari dengan cepat. Ia menjatuhkan semua muatan. Piring-piring dan mangkuk-mangkuk pecah berkeping-keping. Melihat itu, si penjual menjadi marah dengan Nasreddin hingga dia memukul Nasreddin berulang-ulang.
"Mengapa kau memukulku?" Saya sudah mati. Kau tidak dapat memukul orang mati," Nasreddin berteriak.
Si penjual tidak mendengar apapun kata Nasreddin dan tetap memukulnya. Akhirnya Nasreddin tidak dapat menahan pukulan itu dan berlari ke rumah.
Istrinya sangat gembira karena dia kembali ke rumah. Begitu juga para tetangga. Salah satu dari tetangga bertanya padanya, "Nasreddin, kau telah berada di Surga. Katakan pada kami, bagaimana perasaanmu di Surga."
Dia menjawab, "Saya sudah merasa sangat baik, tenang , dan damai jika tidak Saya ketakutan karena seekor keledai membawa banyak piring dan mangkuk."
Kembali