oleh: Sugeng Hariyanto
diterjemahkan oleh: Ferryanto
Bagian Adil
Hakim tua telah sakit selama tiga bulan. Banyak dokter mencoba menyembuhkannya; tapi dia tidak menjadi baik. Suatu hari dia memanggil anak laki-lakinya, Abunawas.
"Abu, waktuku akan segera datang," dia berkata pada anak laki-lakinya. "Raja Aaron El Roshid akan menunjuk kau menjadi penggantiku. Ambil itu, jika kau pikir kau dapat menjadi hakim yang baik. Jika berpikir kau tidak dapat, lepaskan itu."
Tidak lama setelah itu, ayah Abu meninggal dunia. Abunawas begitu sedih dan binggung. Dia sedih karena dia kehilangan ayahnya. Dia binggung karena dia tidak mau menempati posisi ayahnya, tapi dia belum punya alasan yang baik apapun untuk menolak posisi itu.
Suatu hari dia melihat anak-anak bermain dengan kuda-kudaan yang terbuat dari pelepah daun pisang. Dia membuat satu dan bergabung dengan mereka. Mereka berlari di sekitar dengan gembira. Akhirnya, mereka pergi ke istana dengan kuda-kudaan mereka. Beberapa menteri melihat Abunawas diantara anak-anak itu. Mereka pikir bahwa Abu gila karena ayahnya baru saja meninggal. Mereka melaporkan hal ini ke raja.
Raja tidak mempercayai mereka, jadi dia memanggil Abu untuk datang ke istana. Ketika Abu tiba di pintu gerbang istana, seorang penjaga memberhentikannya. "Hei, dengar," kata penjaga. "Saya akan membiarkan kau masuk jika kau berjanji sesuatu padaku."
"Menjanjikan kau apa?" Abu berkata.
"Berjanji memberi padaku setengah dari apapun yang raja akan beri padamu."
"Oke, tidak masalah," kata Abu. Penjaga menbiarkan dia lewat pintu gerbang menuju istana.
Ketika Abu di depan raja, dia membungkuk tapi tidak berkata sesuatupun. Raja bertanya padanya.
"Abu, maukah kau menjadi hakim seperti ayahmu?"
Abu tidak menjawab. Raja menjadi tidak sabar dan berkata dengan keras.
"Hei, Abu! Kau dengar saya?"
Abunawas tidak mengatakan suatu kata tapi mulai menari. Raja kemudian sangat marah dan berpikir bahwa Abu gila. Dia minta seorang penjaganya memukul Abu dengan tongkat rotan dua puluh kali. Abu merasa kesakitan tapi dia mencoba tidak menangis atau mengatakan suatu kata.
"Sekarang, pergi," kata raja. Abu meninggalkan istana dengan kesakitan.
Ketika Abu mendapatkan pintu gerbang dia mengambil sebuah tongkat dan mulai memukul penjaga sepuluh kali. Dia lalu meninggalkannya pulang.
Penjaga itu melaporkan hal ini ke raja. Raja marah dan memerintahkan Abu untuk datang lagi ke istana.
"Mengapa kau memukul penjaga?" kata raja.
Dengan tenang Abu menjawab, "Kemarin, sebelum Saya melewati pintu gerbang dia memberhentikan saya dan membuat saya berjanji sesuatu."
"Apa yang dia mau kau berjanji?"
"Dia mau saya memberinya setengah dari apapun Yang Mulia akan berikan padaku. Dan kemarin Anda memberikan saya dua puluh pukulan di punggungku. Jadi saya memberi bagiannya, sepuluh pukulan di punggungnya. Itu adil, bukan?"
Kembali
"Abu, waktuku akan segera datang," dia berkata pada anak laki-lakinya. "Raja Aaron El Roshid akan menunjuk kau menjadi penggantiku. Ambil itu, jika kau pikir kau dapat menjadi hakim yang baik. Jika berpikir kau tidak dapat, lepaskan itu."
Tidak lama setelah itu, ayah Abu meninggal dunia. Abunawas begitu sedih dan binggung. Dia sedih karena dia kehilangan ayahnya. Dia binggung karena dia tidak mau menempati posisi ayahnya, tapi dia belum punya alasan yang baik apapun untuk menolak posisi itu.
Suatu hari dia melihat anak-anak bermain dengan kuda-kudaan yang terbuat dari pelepah daun pisang. Dia membuat satu dan bergabung dengan mereka. Mereka berlari di sekitar dengan gembira. Akhirnya, mereka pergi ke istana dengan kuda-kudaan mereka. Beberapa menteri melihat Abunawas diantara anak-anak itu. Mereka pikir bahwa Abu gila karena ayahnya baru saja meninggal. Mereka melaporkan hal ini ke raja.
Raja tidak mempercayai mereka, jadi dia memanggil Abu untuk datang ke istana. Ketika Abu tiba di pintu gerbang istana, seorang penjaga memberhentikannya. "Hei, dengar," kata penjaga. "Saya akan membiarkan kau masuk jika kau berjanji sesuatu padaku."
"Menjanjikan kau apa?" Abu berkata.
"Berjanji memberi padaku setengah dari apapun yang raja akan beri padamu."
"Oke, tidak masalah," kata Abu. Penjaga menbiarkan dia lewat pintu gerbang menuju istana.
Ketika Abu di depan raja, dia membungkuk tapi tidak berkata sesuatupun. Raja bertanya padanya.
"Abu, maukah kau menjadi hakim seperti ayahmu?"
Abu tidak menjawab. Raja menjadi tidak sabar dan berkata dengan keras.
"Hei, Abu! Kau dengar saya?"
Abunawas tidak mengatakan suatu kata tapi mulai menari. Raja kemudian sangat marah dan berpikir bahwa Abu gila. Dia minta seorang penjaganya memukul Abu dengan tongkat rotan dua puluh kali. Abu merasa kesakitan tapi dia mencoba tidak menangis atau mengatakan suatu kata.
"Sekarang, pergi," kata raja. Abu meninggalkan istana dengan kesakitan.
Ketika Abu mendapatkan pintu gerbang dia mengambil sebuah tongkat dan mulai memukul penjaga sepuluh kali. Dia lalu meninggalkannya pulang.
Penjaga itu melaporkan hal ini ke raja. Raja marah dan memerintahkan Abu untuk datang lagi ke istana.
"Mengapa kau memukul penjaga?" kata raja.
Dengan tenang Abu menjawab, "Kemarin, sebelum Saya melewati pintu gerbang dia memberhentikan saya dan membuat saya berjanji sesuatu."
"Apa yang dia mau kau berjanji?"
"Dia mau saya memberinya setengah dari apapun Yang Mulia akan berikan padaku. Dan kemarin Anda memberikan saya dua puluh pukulan di punggungku. Jadi saya memberi bagiannya, sepuluh pukulan di punggungnya. Itu adil, bukan?"
Kembali