Inggris : Sugeng Hariyanto
Indonesia : Ferryanto
Nasib Adalah Tidak Masuk Akal
Nasreddin sedang berjalan pulang dengan santai melewati jalan di lingkungan tempat tinggalnya. Jalannya sangat sempt dan rumah-rumah sangat dekat dengan jalan. Ketika dia berjalan di depan sebuah rumah lusuh, tiba-tiba seorang pria jatuh dari atap menimpanya. Pria itu sedang memperbaiki atap rumahnya.
Pria itu tidak terluka bahkan memar. Di lain pihak, Nasreddin lehernya patah. Oleh karena itu, di harus di rawat di rumah sakit.
Ketika dia berada di rumah sakit, banyak teman-temannya mengunjunginya. Salah seorang bertanya padanya, "Nasreddin, pelajaran apa yang kau dapat ambil dari kecelakaan itu?"
"Tak ada tapi satu; jangan percaya pada perkataan bahwa nasib selalu masuk akal."
"Bagaimana kau dapat menyimpulkan pelajaran itu?" tanya temannya kemudian.
"Pria itu jatuh dari atap. Jika nasib masuk akal dia seharusnya telah patah leher atau terluka. Tapi kenyataannya ialah dia jatuh dari atap, Saya yang patah leher," kata Nasreddin.
Pria itu tidak terluka bahkan memar. Di lain pihak, Nasreddin lehernya patah. Oleh karena itu, di harus di rawat di rumah sakit.
Ketika dia berada di rumah sakit, banyak teman-temannya mengunjunginya. Salah seorang bertanya padanya, "Nasreddin, pelajaran apa yang kau dapat ambil dari kecelakaan itu?"
"Tak ada tapi satu; jangan percaya pada perkataan bahwa nasib selalu masuk akal."
"Bagaimana kau dapat menyimpulkan pelajaran itu?" tanya temannya kemudian.
"Pria itu jatuh dari atap. Jika nasib masuk akal dia seharusnya telah patah leher atau terluka. Tapi kenyataannya ialah dia jatuh dari atap, Saya yang patah leher," kata Nasreddin.
Kembali

