Inggris : Sugeng Hariyanto
Indonesia : Ferryanto
Wajah di Jendela
Nasreddin mendengar kabar bahwa pria terkaya di kota akan memberi amal pada semua orang miskin disana. Nasreddin mau datang kesana segera tapi dia juga harus menyelesaikan pekerjaannya di rumah. Jadi, pertama dia mengerjakan pekerjaannya dengan cepat dan lalu lari ke rumah pria kaya itu.
Ketika dia tiba disana, tidak ada orang diluar rumah. Dia pikir dia terlambat. Dia memandang ke rumah dari kejauhan. Karena dia melihat pria kaya melalui jendela, dia mengetuk pintu.
Sesaat kemudian, pelayan datang dan berkata, "Maaf, Pak. Tuan saya lagi keluar."
Nasreddin sangat kecewa. Dia tahu bahwa pria kaya itu telah berbohong padanya. Dia mau marah tapi tidak ada alasan untuknya.
Dia berkata pada pelayan, "Baiklah. Meski dia tidak dapat memberi saya amal apapun, Saya akan memberinya nasihat. Katakan padanya nanti, jika dia mau keluar, dia harusnya tidak meninggalkan wajahnya di jendela, jika tidak seseorang akan mencurinya."
Ketika dia tiba disana, tidak ada orang diluar rumah. Dia pikir dia terlambat. Dia memandang ke rumah dari kejauhan. Karena dia melihat pria kaya melalui jendela, dia mengetuk pintu.
Sesaat kemudian, pelayan datang dan berkata, "Maaf, Pak. Tuan saya lagi keluar."
Nasreddin sangat kecewa. Dia tahu bahwa pria kaya itu telah berbohong padanya. Dia mau marah tapi tidak ada alasan untuknya.
Dia berkata pada pelayan, "Baiklah. Meski dia tidak dapat memberi saya amal apapun, Saya akan memberinya nasihat. Katakan padanya nanti, jika dia mau keluar, dia harusnya tidak meninggalkan wajahnya di jendela, jika tidak seseorang akan mencurinya."
Kembali

