Inggris : Sugeng Hariyanto
Indonesia : Ferryanto
Kantung Haus
Suatu sore Nasreddin diundang ke pesta perkawinan di dekat sebuah desa. Itu sebuah pesta besar. Hampir semua orang desa diundang ke pesta. Pria ditempatkan di ruang kanan; sementara wanita ditempatkan di ruang kiri. Nasreddin pergi ke ruang kanan, tentunya.
Ketika dia tiba, telah ada banyak tamu-tamu lain di ruang. Sesaat kemudian pesta mulai. Setiap orang makan dengan bahagia. Salah seorang dari tamu sedang makan makanan yang tersedia sebanyak mungkin. Dia bahkan mencoba menaruh makanan sebanyak mungkin ke dalam kantungnya. Dia tentu mau membawanya ke rumah.
Nasreddin mengawasi laki-laki rakus itu. Ketika laki-laki itu ke meja sebelum dia, Nasreddin mengambil sebuah jambangan teh. Dia mendekati laki-laki itu dan berdiri disampingnya. Lalu dia menuang teh ke dalam kantung yang penuh dengan makanan. Tamu-tamu lain menertawakan laki-laki rakus yang melihat kejadian itu. Laki-laki rakus itu menyadari bahwa Nasreddin sedang menertawakannya.
Laki-laki itu berteriak dengan marah, "Hei, apa yang kau lakukan, bung? Mengapa kau menuang teh ke dalam kantungku?"
"Maaf, Saudara. Saya tidak bermain tipuan kotor padamu," jawab Nasreddin. Dia menaruh jambangan teh kembali ke atas meja.
"Yah, kau menertawakanku. Dan tamu-tamu lain memperolokku karena itu!" laki-laki itu berteriak dengan lebih keras.
"Saya tidak mau memperolokmu. Saya hanya melihat berapa banyak makanan yang kantungmu makan tadi. Saya takut bahwa kantungmu sangat haus. Jadi, Saya membantu memberikan mereka minum yang cukup."
Ketika dia tiba, telah ada banyak tamu-tamu lain di ruang. Sesaat kemudian pesta mulai. Setiap orang makan dengan bahagia. Salah seorang dari tamu sedang makan makanan yang tersedia sebanyak mungkin. Dia bahkan mencoba menaruh makanan sebanyak mungkin ke dalam kantungnya. Dia tentu mau membawanya ke rumah.
Nasreddin mengawasi laki-laki rakus itu. Ketika laki-laki itu ke meja sebelum dia, Nasreddin mengambil sebuah jambangan teh. Dia mendekati laki-laki itu dan berdiri disampingnya. Lalu dia menuang teh ke dalam kantung yang penuh dengan makanan. Tamu-tamu lain menertawakan laki-laki rakus yang melihat kejadian itu. Laki-laki rakus itu menyadari bahwa Nasreddin sedang menertawakannya.
Laki-laki itu berteriak dengan marah, "Hei, apa yang kau lakukan, bung? Mengapa kau menuang teh ke dalam kantungku?"
"Maaf, Saudara. Saya tidak bermain tipuan kotor padamu," jawab Nasreddin. Dia menaruh jambangan teh kembali ke atas meja.
"Yah, kau menertawakanku. Dan tamu-tamu lain memperolokku karena itu!" laki-laki itu berteriak dengan lebih keras.
"Saya tidak mau memperolokmu. Saya hanya melihat berapa banyak makanan yang kantungmu makan tadi. Saya takut bahwa kantungmu sangat haus. Jadi, Saya membantu memberikan mereka minum yang cukup."
Kembali

